Luxina, “Change is Inevitable”, begitu yang tertulis di show notes Dior Womens Spring/Summer 2026. Perubahan yang dimaksud kali ini mengundang kita untuk terus bermimpi dan berefleksi akan masa depan fashion, terutama di Dior. Kali ini, Jonathan Anderson merancang womenswear untuk salah satu jenama fashion terpenting dalam sejarah fashion. Menurutnya, untuk masuk ke Dior, dibutuhkan sikap empati terhadap keseluruhan sejarahnya. Koleksi ini merupakan surat cinta untuk semua desainer Dior sebelumnya, dengan sentuhan khas Anderson.
Abad ke-18 dan Pita

Jonathan Anderson terinspirasi oleh berbagai referensi, salah satunya abad ke-18. Ia mengambil inspirasi dari kerah cravat yang diimplementasikan pada atasan kemeja perempuan. Dress dengan siluet abad ke-18 yang seolah memiliki panniers, dipadukan dengan inspirasi Tourbillon Dress Dior tahun 1957, menghasilkan dress pendek yang kaku namun playful.

Penggunaan pita atau bow merupakan elemen penting dalam sejarah Dior. Kita dapat melihat pita digunakan di berbagai aksesori dan pakaian karya Anderson. Seperti pita kulit yang menjadi gantungan pada versi baru Lady Dior, pita pada sepatu heels yang bernostalgia pada era Roger Vivier di Dior, hingga pita pada berbagai pakaian dan rok. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah dress yang seolah-olah dibuat dari pita besar yang menyelimuti tubuh, terinspirasi dari Curacao Dress Dior. Dan pita dalam arsip Dior merupakan simbol dari Miss Dior.
A New ‘New Look’

Jonathan Anderson merupakan desainer yang gemar menggali sejarah. Menggunakan sejarah sebagai referensi adalah hal yang pivotal baginya, namun ia putarbalikkan dan olah kembali menjadi sesuatu yang sepenuhnya baru. Meskipun menciptakan sesuatu yang benar-benar baru dalam fashion merupakan tugas yang hampir mustahil, Anderson tampaknya memiliki niat untuk membuktikan bahwa hal itu tidak mustahil.
Topi, yang juga dikenal sebagai ciri khas Dior, dilahirkan kembali menjadi semacam tameng, bentuk baru karya dari Stephen Jones. Salah satu look terbaik dari koleksi ini adalah avant-garde hat tersebut, dipadukan dengan pleated top berwarna merah dengan detil peekaboo lace terinspirasi dari design Yves Saint Laurent pada Labia Dress Dior tahun 1959, serta styling celana putih dan sepatu satin berbentuk bunga mawar.


Meletakan keseluruhan sejarah Dior dalam satu “kotak” menciptakan ketegangan. Ketegangan antara kemegahan dan hal yang sederhana, antara yang lama dan yang baru, antara yang menenangkan dan yang mengajutkan. Semua itu menghasilkan sebuah ledakan, dan koleksi ini adalah hasil dari ledakan tersebut. Ledakan khas Jonathan Anderson yang melahirkan koleksi penuh referensi, sentuhan seni abstrak dan avant-garde, serta perpaduan hal-hal yang tidak semestinya, namun dinormalisasi untuk kehidupan sehari-hari. Dior di masa kini adalah era perubahan yang mencari pembaruan. Sebuah misi mencari new “New Look” , untuk merayakan semua perempuan dan berbagai karakter yang ingin mereka ekspresikan.







