Di tengah getar panggung Jakarta Fashion Week 2025, Mel Ahyar Archipelago memperkenalkan lembar perjalanan wastranya lewat koleksi bertajuk “Kurangu.” Terinspirasi dari kata udang dalam bahasa Sumba, Mel Ahyar menggali filosofi regenerasi yang tersimpan di balik makhluk samudera itu, simbol pergantian kulit dan reinkarnasi yang menjadi napas spiritual masyarakat Sumba. “Every thread tells a story, but only when we listen does it become legacy,” ujar Mel, pada kalimat pembuka Siaran Pers yang dibagikan.

Next Stage of life, dengan Kuranggu
Melalui riset budayanya, Mel menemukan bahwa udang bukan hanya boga bahari para bangsawan, melainkan metafora tentang kelahiran kembali. “Bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan next stage of life,” tutur sang desainer. Pandangan ini menjadi fondasi filosofis Kurangu—sebuah tafsir lembut tentang kesinambungan, di mana yang lama tak pernah benar-benar mati, melainkan berevolusi menjadi sesuatu yang baru.

Wastra Mel Ahyar Archipelago
Arie Panca, Co-Founder & CEO Maison MAC, melihat nilai regenerasi ini sebagai cerminan dari perjalanan label itu sendiri. “Melalui Kurangu, kita juga sedang mengganti kulit Wastra—mengubah persepsi kuno menjadi ekspresi yang lebih relevan dan modern,” ujarnya. Logo baru Mel Ahyar Archipelago, yang mengambil bentuk udang ala tenun Sumba, menandai semangat transformatif tersebut. Bagi Mel dan Arie, ini bukan sekadar simbol dari satu daerah, melainkan perayaan seluruh spektrum budaya Nusantara.

Urbanitas vs Tradisi
Terdiri dari dua belas tampilan—sembilan untuk wanita dan tiga untuk pria—koleksi Kurangu menampilkan harmoni antara Tenun Sumba dan konstruksi tailoring modern. Motif biota laut seperti ikan, lobster, kerang, hingga terumbu karang berpadu dengan siluet tegas cropped jacket, textile layering, dan rumbai yang lembut berayun. Kontras warna, tekstur, dan detail kaya menjadi bahasa visual baru Mel Ahyar: perpaduan antara urbanitas dan tradisi, antara dunia yang dinamis dan akar budaya yang abadi.

Wastra Nusantara
“Setiap kain menyimpan kearifan,” ungkap Mel di penghujung pertunjukan. Melalui Kurangu, ia mengajak publik untuk tidak lagi melihat Wastra Nusantara sebagai peninggalan masa lalu, melainkan bahasa hidup yang terus berevolusi. Sementara Arie menegaskan, perjalanan Mel Ahyar Archipelago masih akan berlanjut—dari Sumba, cerita akan terus menjalar ke berbagai pulau lain di penjuru Nusantara. Sebuah regenerasi tanpa akhir, di mana tiap helai benang menjadi jembatan antara masa lalu, kini, dan nanti.

Tenun Sumba Suara Hati Kami
Tenun Sumba adalah bahasa visual dari jiwa yang berkelana dan agung, sebuah seruan dari masa dulu yang teranyam di antara benang-benang kehidupan. Di tangan para penenunnya, setiap motif bukan sekadar ornamen, melainkan mantra yang memanggil leluhur dan menjaga harmoni alam semesta. Warna-warna tanah yang pekat, biru laut yang dalam, dan merah darah yang menyala berpadu membentuk narasi tentang keberanian, kesetiaan, dan siklus hidup yang tak pernah berhenti berputar. Tak ada yang lemah dari Tenun Sumba; ia solid, penuh karakter, dan menolak dilupakan. Seolah tiap helai kainnya berbisik tentang suku yang masih berdiri tegak di tengah arus zaman, membawa kisah kebanggaan yang tak bisa dipadamkan waktu.














