Kemenangan perupa Indonesia Dian Suci dalam edisi kesepuluh Max Mara Art Prize for Women menjadi salah satu momen penting bagi lanskap seni kontemporer Asia Tenggara tahun ini. Diumumkan bertepatan dengan pembukaan La Biennale di Venezia di Venezia, penghargaan bergengsi ini mempertemukan praktik seni, kriya, dan spiritualitas dalam dialog lintas budaya yang terasa begitu relevan dengan dinamika dunia hari ini. Bersama Museum MACAN, Collezione Maramotti, serta kurator internasional Cecilia Alemani, penghargaan ini menandai bab penting baru bagi posisi seniman Indonesia di panggung global.
Suci di antara 5 finalis
Dipilih dari lima finalis, Dian Suci menghadirkan proposal bertajuk Crafting Spirit: Cultural Dialogues in Heritage and Practice, sebuah riset artistik yang menelusuri hubungan antara spiritualitas, kerja tangan, dan kapitalisme. Praktik artistiknya selama ini dikenal berangkat dari pengalaman personal sebagai ibu tunggal, lalu berkembang menjadi pembacaan tajam mengenai patriarki, domestikasi politik perempuan, hingga otoritarianisme yang menyusup ke ruang keseharian. Melalui instalasi, lukisan, video, dan patung, ia membangun bahasa visual yang intim namun penuh daya resistensi.
Residensi di Italia
Residensi enam bulan di Italia akan menjadi ruang eksplorasi baru bagi Dian Suci untuk membaca bagaimana iman diproduksi, diperdagangkan, sekaligus dipertahankan melalui kriya tradisional. Perjalanannya akan dimulai di Assisi untuk memahami kehidupan para biarawan Fransiskan dan relasi antara agama dengan komersialisasi keyakinan. Dari sana, ia melanjutkan riset ke Rome, sebelum mendalami teknik papier mâché di Lecce dan mempelajari tempera telur serta tenun tangan kuno di Florence. Seluruh perjalanan ini akan bermuara pada pameran tunggal di Museum MACAN pada musim panas 2027 sebelum dipresentasikan kembali di Italia.
Dian Suci yang kontemporer
Yang membuat proyek ini terasa begitu menarik adalah cara Dian Suci membaca spiritualitas bukan sebagai ruang pelarian, melainkan sebagai bentuk ketahanan budaya di tengah invasi produksi massal dan globalisasi. Ia melihat kriya sebagai arsip hidup, tempat tubuh manusia menyimpan ingatan kolektif, ritual, dan keberlangsungan nilai. Dalam dunia yang semakin mekanis, kerja tangan menjadi bentuk kontemplasi sekaligus perlawanan yang sunyi. Perspektif inilah yang membuat proyeknya terasa sangat kontemporer, namun tetap berakar kuat pada tradisi Indonesia.
Tanggapan Museum MACAN
Direktur Museum MACAN Venus Lau menyebut praktik Dian Suci memiliki kelincahan konseptual yang langka karena mampu bergerak bebas di antara berbagai medium tanpa kehilangan sensitivitas emosionalnya. Sementara itu, Cecilia Alemani menilai kekuatan utama karya Dian terletak pada kemampuannya mengubah ruang domestik menjadi arena resistensi politik. Di sisi lain, Presiden Max Mara Fashion Group Luigi Maramotti melihat proyek ini sebagai dialog berkelanjutan antara Timur dan Barat, antara seni dan kriya, yang menjadi fondasi utama penghargaan tersebut sejak pertama kali didirikan.
Pendekatan Artistik
Kemenangan Dian Suci tidak hanya mempertegas posisi Indonesia dalam percakapan seni internasional, tetapi juga menunjukkan bagaimana narasi personal, ritual, dan kerja tangan tetap memiliki resonansi kuat di era digital. Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, proyek Crafting Spirit justru mengajak publik untuk kembali memperhatikan gestur kecil manusia, sentuhan tangan, serta makna spiritual yang tersembunyi di balik proses penciptaan. Sebuah pendekatan artistik yang lirih, namun memiliki gema panjang dalam wacana seni kontemporer global.


