Di tengah generasi muda yang berlomba mengejar popularitas digital sebagai influencer, podcaster, atau figur viral, muncul sosok Nyoman Ananda Sastra Wijaya dari Tabanan, Bali, yang memilih jalur berbeda. Di usia muda, ia justru menaruh perhatian pada desain, lingkungan, ruang hidup, dan keberlanjutan. Lahir pada 16 Juni 2001, Ananda merupakan lulusan S1 Manajemen Universitas Warmadewa dengan predikat Cum Laude dalam waktu empat tahun, sejak 2019 hingga 2023. Namun lebih dari sekadar capaian akademik, perjalanan kreatifnya memperlihatkan bagaimana generasi baru Bali mulai membangun identitas melalui karya yang memiliki kedalaman nilai.

The A Plant Bali
Semua berawal dari hobi sederhana merawat tanaman. Dari aktivitas itu, Ananda melihat sesuatu yang lebih fungsional sekaligus artistik. Tanaman membutuhkan ruang hidup, wadah, dan bentuk yang mampu memperpanjang relasi manusia dengan alam. Pemikiran tersebut kemudian berkembang menjadi The A PLANT Bali, jenama dekorasi dan planter berbasis terrazzo yang ia dirikan bersama teman pada tahun 2020, di masa pandemi, saat masih berusia 19 tahun dan masih menjalani masa perkuliahan.

Ananda dan produk dekoratif
Sebagai founder The A PLANT Bali, Ananda terlibat langsung dalam pembangunan identitas produk, mulai dari pengembangan konsep bisnis, branding, pemasaran digital, hingga strategi penjualan. Ia juga mengelola operasional usaha, pengembangan desain produk, komunikasi pelanggan, serta membangun berbagai kolaborasi bisnis. Ketertarikannya pada business development, creative industry, dan sustainable design menjadikan jenama ini berkembang tidak hanya sebagai produk dekoratif, tetapi juga sebagai representasi gaya hidup kontemporer yang lebih sadar terhadap ruang dan lingkungan.


Terrazzo dan Quiet Luxury
Koleksi planter terrazzo putih yang dihadirkan The A PLANT Bali memancarkan karakter modernisme yang tenang dan bersih. Esensinya terasa kuat pada prinsip ‘form follows function‘, namun dieksekusi dengan kelembutan visual yang elegan. Tidak ada ornamen berlebihan ataupun dekorasi yang agresif. Yang muncul justru kejujuran material, permainan proporsi, dan kesederhanaan yang terasa sangat refined. Warna putih gading dengan tekstur matte khas terrazzo menciptakan nuansa quiet luxury yang kini semakin relevan dalam estetika interior modern.

Sferis dan Sculptural
Secara visual, koleksi ini bermain pada siluet organik yang terkontrol. Ada bentuk sferis yang penuh, silinder tinggi yang meruncing lembut, hingga proporsi geometris yang terasa sculptural ketika disusun bersama. Pot-pot tersebut tidak lagi sekadar menjadi wadah tanaman, melainkan hadir sebagai objek seni kontemporer yang membangun ketenangan visual di dalam ruang. Dalam atmosfer tropis Bali yang kaya cahaya alami, permukaan matte-satin terrazzo menangkap bayangan secara lembut dan menghadirkan dimensi chiaroscuro yang terus berubah sepanjang hari.

Kultur Pottery Bali
Material terrazzo sendiri memberikan identitas berbeda dibanding kultur pottery tradisional Bali. Jika pottery lahir dari tanah liat, api, dan warisan kerajinan yang sangat intim dengan tradisi leluhur, maka terrazzo bergerak ke arah modernitas yang lebih arsitektural. Materialnya berasal dari campuran semen, komposit, serta pecahan batu alam seperti marmer dan granit yang menghasilkan karakter kokoh, presisi, dan padat. Proses pembuatannya menggunakan teknik molding dan finishing detail yang membutuhkan ketelitian teknis tinggi.

Resort-Style Architecture
Secara estetika, planter terrazzo karya The A PLANT Bali menghadirkan siluet bersih yang cocok dengan pendekatan desain minimalis maupun resort-style architecture yang kini berkembang di Bali. Kehadirannya mampu menjadi jangkar visual di dalam ruang, menciptakan atmosfer modern yang tenang, bersih, dan sophisticated tanpa kehilangan sensitivitas terhadap alam tropis di sekitarnya. Menariknya, karya-karya ini tidak mencoba meninggalkan identitas Bali. Justru di situlah kekuatannya. The A PLANT Bali memperlihatkan bagaimana material modern global dapat dilebur dengan sensitivitas lokal terhadap cahaya, ruang terbuka, dan relasi manusia dengan tanaman. Ada dialog yang halus antara modernitas dan alam tropis yang terasa sangat relevan dengan arah desain Bali hari ini.

Industri Kreatif Bali
Di tengah derasnya tren visual yang cepat berubah di media sosial, pendekatan yang dilakukan Nyoman Ananda Sastra Wijaya terasa memiliki umur yang lebih panjang. Ia tidak sekadar menciptakan produk dekorasi, tetapi membangun sensibilitas baru tentang bagaimana generasi muda dapat berbicara mengenai estetika tanpa melepaskan kesadaran terhadap keberlanjutan dan kualitas ruang hidup. Melalui The A PLANT Bali, Ananda menjadi bagian dari wajah baru industri kreatif Bali yang lebih reflektif, lebih tenang, dan lebih berakar pada nilai. Jika pottery tradisional Bali adalah representasi tanah dan tradisi yang diwariskan turun-temurun, maka koleksi terrazzo putih ini menjadi simbol modernitas tropis yang bersih dan tak lekang waktu. Sebuah bahasa visual yang lahir dari tangan generasi muda yang memilih untuk tetap dekat dengan alam dan tanah leluhurnya.



FOTO: HARTAWAN


