Ini adalah koleksi Cruise pertama Chiuri untuk FENDI. Sebuah debut yang terasa lebih sebagai deklarasi visi ketimbang pergantian musim dan untuk pertama kalinya juga, koleksi cruise ini termasuk koleksi pria. Di tangan desainer asal Italia tersebut, Cruise 2027 menjadi perjalanan intelektual yang menyatukan mode, arsitektur, sinema, dan refleksi tentang masyarakat kontemporer.
Chiuri kembali menegaskan akar desainnya yang sangat Italia: perhatian terhadap proses, penghormatan pada material, serta pencarian bentuk yang terus berkembang. Namun yang paling menarik adalah bagaimana ia menghidupkan kembali gagasan tentang wardrobe sebagai sesuatu yang esensial. Bukan sekadar kumpulan pakaian, melainkan perangkat yang membantu manusia memahami dirinya sendiri.


Ia menggunakan istilah bourgeoisie—borjuis—bukan sebagai simbol kelas sosial, melainkan sebagai ruang pertemuan berbagai generasi, tubuh, perilaku, dan aspirasi. Dalam tafsir Chiuri, borjuis adalah wajah modernitas yang inklusif. Sebuah dunia tempat pakaian menjadi medium dialog antara individu dan masyarakat.
Di atas runway imajiner yang ia bangun, laki-laki dan perempuan berjalan berdampingan. Batas-batas gender menjadi semakin cair. Sebuah kemeja dapat berbicara dengan celana hingga keduanya tampak seperti satu kesatuan. Siluet-siluet yang lahir terasa seperti seragam baru untuk kehidupan urban masa kini: fleksibel, dapat diurai dan dirakit ulang sesuai kebutuhan.

Kekuatan koleksi yang didominasi warna gelap ini terletak pada eksplorasi material yang menjadi bahasa utama FENDI. Pergamena—material yang memiliki sejarah panjang dalam semesta rumah mode Roma tersebut—dihidupkan kembali dan ditempatkan berdampingan dengan kulit hitam bertabur stud pada tas Baguette yang direinterpretasi. Dalam busana, warna pergamena menjadi kontras lembut yang berbicara dengan dominasi hitam, menghasilkan ketegangan visual yang elegan.
Sementara itu, potongan-potongan klasik mengalami transformasi subtil namun signifikan. Trench coat berevolusi melalui susunan garis-garis bulu yang dipertegas stud berbentuk baji. Kulit mengilap berhadapan dengan kain matte, menciptakan dialog tekstur yang memperbarui persepsi terhadap jaket maupun mantel. Pada sisi yang lebih puitis, renda perak dan sulaman payet memancarkan kilau-kilau halus yang bergerak mengikuti tubuh.



Namun Cruise 2027 tidak berhenti pada pakaian. Untuk memperkenalkan koleksi ini, FENDI menghadirkan sebuah film pendek yang terasa seperti surat cinta kepada sejarah rumah mode tersebut. Film ini merujuk langsung pada Histoire d’Eau, karya legendaris Jacques de Bascher tahun 1977 yang diprakarsai Karl Lagerfeld untuk meluncurkan koleksi prêt-à-porter pertama FENDI.
Dalam versi baru yang dibayangkan Chiuri, tokoh Suzie kembali hadir. Namun kali ini ia bergerak perlahan di dalam bangunan rasionalis Roma yang sunyi. Sosok perempuan tersebut berjalan seolah melintasi batas antara mimpi dan kenyataan. Setiap langkahnya terasa seperti ritual. Setiap ruang yang dilewati menjadi panggung bagi dialog antara cahaya dan bayangan.


Melalui narasi visual yang ditulis Rosa Matteucci dengan judul Beyond the Mirror, Suzie tampil dalam balutan hitam pekat yang seolah merangkum seluruh spektrum warna. Ia menjadi figur yang nyaris mitologis—perempuan yang kuat, berpengetahuan, dan bebas. Dalam salah satu metafora paling menarik, ia digambarkan sebagai Garuda yang terbang melampaui takdir-takdir rapuh manusia biasa.
Bangunan rasionalis tempat film berlangsung kemudian menjelma menjadi karakter utama kedua. Tangga-tangga marmer, lorong-lorong kosong, serta permainan cahaya menghadirkan atmosfer yang berada di antara karya Stanley Kubrick dan Aleksandr Sokurov. Mode tidak lagi sekadar dikenakan; ia menjadi bagian dari arsitektur, menjadi elemen yang menghidupkan ruang.



Di sinilah kekuatan sebenarnya dari Cruise 2027 terasa. Chiuri tidak menawarkan nostalgia. Ia menggunakan sejarah sebagai fondasi untuk membangun sesuatu yang baru. Ia menggabungkan warisan FENDI dengan kebutuhan generasi kontemporer yang semakin menolak batas-batas lama.
Simbol “Tree of Life” yang muncul dalam koleksi menjadi penutup yang tepat untuk narasi tersebut. Ia berbicara tentang alam, kemanusiaan, nalar, dan koeksistensi. Sebuah simbol yang mengingatkan pada moto yang kini diusung Chiuri: Less I, More Us.








