Weekend Max Mara menghadirkan koleksi kapsul unik A Weekend with an Artist pada Spring/Summer 2026 melalui perspektif baru. Melalui sudut pandang lima perupa ternama dunia yang menafsirkan ulang salah satu ikon rumah mode tersebut, trench coat. Trench Canasta yang ikonis dijadikan kanvas kosong bagi para perupa.

Victoria Kosheleva, yang memadukan citra kontemporer dan klasik dalam gaya yang ia sebut sebagai “cyber expressionism,” bekerja langsung pada sebuah prototipe dengan melukis berbagai motif yang kemudian direproduksi oleh Weekend Max Mara menjadi motif cetak. Bagi Kosheleva, trench coat bukan sekadar pakaian—melainkan seperti tirai atau kostum panggung tempat kotak-kotak papan catur, mata dekoratif, pusaran rumit, dan bunga-bunga hidup berdampingan secara harmonis. Ide ini muncul dari refleksinya mengenai teatrikalitas, topeng, dan sosok trickster yang kerap hadir dalam karya-karyanya.

Perupa asal Italia Paola Pivi terinspirasi dari cahaya pulau Hawaii -tempat ia bermukim, yang terang, kekuatan dan intensitas warna yang mewarnai flora serta fauna, dan terutama pelangi ganda yang hampir setiap hari melengkung di langit. Unsur-unsur alam tersebut ia integrasikan ke dalam desain trench coat-nya. Keajaiban alam ini menginspirasi garis-garis vertikal berwarna-warni yang mengalir di bagian depan dan belakang trench, membentuk siluet jam pasir yang menyempit di bagian pinggang.

Tschabalala Self dikenal melalui lukisan assemblage, cetakan, patung, dan instalasi yang mengeksplorasi identitas manusia serta makna budaya dari tanda dan simbol menghadirkan trench coat yang berwarna kuning pastel mengilap dihiasi Infinity Flowers berwarna merah muda—simbol keindahan temporal dan kerapuhan alam yang dianalogikan dengan kondisi fisik manusia. Infinity Flower, layaknya tanaman tahunan yang terus bermekaran dari tahun ke tahun, mengingatkan bahwa transformasi berakar dari diri kita sendiri. Teknik stamping yang digunakan untuk karya wearable art ini terinspirasi dari teknik pewarnaan batik kuno.

Sementara itu, vinyl hitam menjadi ciri khas trench coat berlapis mengilap karya seniman multidisipliner Tai Shani, yang berkarya melalui performance, film, fotografi, dan instalasi dengan pendekatan penulisan eksperimental. Ia berupaya merebut kembali estetika feminin—seperti floral, psychedelic, dan gothic—melalui sudut pandang militansi utopis. Menurutnya, vinyl hitam tersebut memainkan trench coat sebagai simbol busana yang identik dengan kerahasiaan, dipadukan dengan ilustrasi tangan berupa kucing-kucing menggemaskan, sebuah sentuhan manis ala pinup tahun 1950-an.

Yang terakhir adalah karya perupa muda asal Tiongkok yang berbasis di Bologna, Shafei Xia. Ia menggunakan teknik khasnya—melukis cat air di atas kertas cendana—untuk menciptakan karya berupa sosok perempuan yang menyatu dengan harimau putih, dihiasi detail floral yang menyebar di bagian belakang trench dari kerah hingga ujung bawah. Imaji tersebut menghadirkan kontras antara permukaan yang tenang dan badai di bawahnya, tempat dua kekuatan berlawanan hidup berdampingan dan saling membelit. Kilasan sukacita muncul perlahan dari bunga-bunga merah tua, sementara kehidupan terbakar di antara cinta dan kehancuran.
Para perupa dipilih oleh Francesco Bonami, kritikus seni, kurator, dan penulis ternama yang pernah menjabat sebagai direktur Venice Biennale, kurator Whitney Biennial of American Art, dan kini menjadi direktur artistik BYArtmatters di Hangzhou serta anggota dewan Gagosian Gallery. Keunikan, bahasa visual yang khas, serta keseimbangan lintas generasi menjadi faktor utama dalam pemilihan para perupa ini.
Kampanye ini sendiri dipotret oleh Petra Collins, perupa dan sutradara multitalenta yang fotografi khasnya membentuk nuansa visual sepanjang era 2010-an hingga 2020-an.
Dalam visual A Weekend with an Artist, Collins menghadirkan perspektif unik melalui self-portraiture. Ia bukan sosok asing di depan kamera, dan dalam pemotretan ini ia tampil mengenakan kelima trench coat eksklusif tersebut, yang juga dipotret dalam versi still-life, di sebuah latar menyerupai gudang penuh tumpukan karya seni.


