Nama 71st Omakase sudah lama bergaung di kalangan pecinta kuliner Jakarta, disebut-sebut sebagai salah satu pengalaman bersantap paling unik dan penuh kejutan di ibu kota. Setiap kali mendengar cerita dari teman atau membaca ulasan singkat, rasa penasaran saya semakin besar—apa benar sebuah restoran bisa menyulap makan malam menjadi sebuah pertunjukan imersif yang melibatkan seluruh pancaindra? Saat undangan resmi akhirnya tiba di meja Luxina, saya tahu bahwa ini adalah momen yang tidak boleh dilewatkan.
Malam itu, saya melangkah masuk dengan ekspektasi tinggi, tapi apa yang saya temukan jauh melampaui imajinasi. Dari aroma rempah segar yang menyambut di pintu masuk, cahaya temaram yang hangat, hingga senyum ramah para staf yang seolah sudah siap membawa kami masuk ke sebuah dunia baru—semua detail membuat saya merasa seperti sedang memasuki sebuah panggung pertunjukan kuliner. Inilah perjalanan panjang yang sudah saya tunggu-tunggu: menyelami rahasia rasa, cerita, dan seni di balik 71st Omakase.
Menemukan Permata Tersembunyi Jakarta Selatan dengan Sentuhan Farm-to-Table
71st Omakase memang tak terletak di jalan utama yang riuh, melainkan tersembunyi di sudut tenang Jakarta Selatan. Justru di sanalah daya tariknya: ia seperti sebuah permata rahasia yang hanya bisa ditemukan oleh mereka yang benar-benar mencarinya. Filosofi farm-to-table menjadi dasar kuat dari setiap hidangan yang dihadirkan. Banyak bahan segar, mulai dari sayuran hijau, bunga edible, hingga rempah, ditanam langsung di halaman belakang restoran.

Hal ini memberi dimensi baru dalam pengalaman bersantap: kami tidak hanya merasakan kesegaran alami, tetapi juga ikut memahami betapa dekatnya makanan dengan bumi tempat ia tumbuh. Rasanya seperti sebuah dialog halus antara alam dan kuliner. Di tengah dunia kuliner yang sering terjebak dalam kemewahan artifisial, 71st Omakase tampil sebagai pengingat bahwa kelezatan sejati berawal dari tanah, sinar matahari, dan air.
Saat Hidangan Berubah Menjadi Seni Teater yang Menghidupkan Imajinasi
Ruang makan di 71st Omakase ibarat sebuah panggung teater mini, dengan dapur terbuka sebagai pusat pertunjukan. Setiap hidangan bukan sekadar piring berisi makanan, melainkan sebuah karya seni yang dipresentasikan langsung di hadapan tamu. Para chef bergerak dengan presisi, setiap potongan, setiap tarikan pisau, hingga setiap tetes saus dituang dengan koreografi yang penuh intensi.
Malam itu, tema besar yang diusung adalah Zodiac 2.0—sebuah pengalaman omakase imersif yang playful, unik, dan benar-benar dirancang dengan penuh detail. Tidak hanya soal rasa, setiap hidangan adalah bagian dari cerita, disusun sedemikian rupa untuk menghadirkan pengalaman satu-satunya di Jakarta.
Sebelum masuk ke sesi utama, kami diajak berkeliling ke glasshouse yang menakjubkan. Di sinilah sebagian besar bahan utama ditanam dan dipanen—herbs, sayuran, edible flowers, hingga buah-buahan tropis. Rasanya seperti melihat langsung bagaimana alam menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap sajian. Beberapa bahan bahkan berasal dari kebun warga sekitar, sebuah bentuk dukungan nyata pada komunitas lokal sekaligus menegaskan filosofi keberlanjutan yang dipegang teguh restoran ini.

Setelah itu, perjalanan rasa dimulai dengan cara yang sama sekali berbeda. Kami tidak langsung duduk di meja, melainkan diajak menyusuri ruangan-ruangan bertema zodiak, mirip dengan pengalaman escape room versi kuliner. Setiap ruangan menyimpan kejutan, permainan interaktif, dan hidangan yang terintegrasi dalam narasi.
Di Capricorn Room, sebuah ruangan penuh dengan bunga-bunga besar menyambut kami. Di balik kelopak bunga itu tersembunyi amuse bouche, dan kami harus membuka bunga dengan kunci kecil. Simbol yang begitu indah—seolah menandai lahirnya kehidupan baru dalam perjalanan rasa. Selanjutnya, di Libra Room, kami diminta menyeimbangkan sebuah timbangan antik. Ketika keseimbangan tercapai, muncullah sajian amuse bouche lainnya. Hidangan ini bukan sekadar enak, tapi juga mencerminkan filosofi hidup: keseimbangan adalah kunci harmoni. Puncaknya ada di Leo Room, sebuah ruangan gelap di mana kami harus menemukan tombol tersembunyi untuk menyalakan cahaya. Begitu ruangan hidup, hidangan kombucha dengan cotton candy di atasnya tersaji dramatis, menyalakan semangat keberanian khas zodiak Leo.


Setelah melewati tiga ruangan tersebut, kami kembali ke meja utama di depan open kitchen. Dari titik inilah parade menu Zodiac 2.0 benar-benar dimulai, satu per satu hadir dengan cerita yang memikat.
Hidangan Aries dibuka dengan kejutan teatrikal: sebuah buku besar bergambar simbol Aries diletakkan di hadapan kami. Saat sampulnya dibuka, halaman pertama kertas dibakar hingga muncul hidangan tersembunyi—fried pao dengan hollandaise, candied carrot, lamb meat, cucumber, fried cilantro, dan lime caviar. Perpaduan yang berani, penuh energi, sama seperti karakter Aries.
Ketika tiba giliran Scorpio, sebuah diorama lembah dengan air terjun mini menampilkan sajian galah prawn pasta dengan gendar cracker, laksa emulsion, aromatic breadcrumbs, dan belimbing wuluh relish. Rasa asam segar berpadu gurih menciptakan sensasi misterius—tajam namun memikat, persis seperti Scorpio.
Pisces menghadirkan momen magis dengan fish soup: fish stock, dabu-dabu sambal, white pomfret, dan catfish mousse. Tapi yang membuatnya istimewa adalah butterfly pea collagen teabag yang harus dicelupkan ke dalam kuah kaldu panas. Perlahan warna berubah, aroma berpadu, lalu kuah dituangkan ke atas mangkuk sup bersama aromatic soy sauce dan pearl crackers. Rasanya menenangkan, hangat, dan penuh kedalaman—sebuah hidangan yang benar-benar merepresentasikan jiwa Pisces.
Saat memasuki Cancer, meja kami dihiasi diorama pantai lengkap dengan cangkang kepiting besar. Ketika dibuka, tersembunyi sajian kuwut granita, coconut jelly, coconut meringue, dan coconut milk foam. Sebuah palate cleanser yang menyegarkan, ringan, dan playful—seakan mengajak kembali pada nostalgia bermain di tepi pantai.

Lalu datang Taurus, sebuah perayaan rasa yang begitu membumi namun mewah. Dry aged Sumatran Wagyu 60 hari disajikan di dalam globe, begitu juicy dan lembut. Dihidangkan bersama platter berisi aneka karbohidrat tradisional Indonesia—nasi, lontong, singkong—sebuah bentuk penghormatan pada keberagaman cita rasa lokal yang berpadu sempurna dengan daging wagyu premium.
Pengalaman paling seru mungkin hadir lewat Sagittarius. Kami disuguhi diorama gua hutan lengkap dengan figur kelinci. Lalu sebuah busur mini diberikan, dan kami diminta “memanah” kelinci tersebut. Jika berhasil, laci di bawah diorama terbuka dan di dalamnya tersimpan hidangan sate kelinci, disajikan bersama fried rice dengan bumbu Bali, beef cheek, fried garlic, kecombrang, dan onsen egg. Rasa pedas aromatiknya sungguh luar biasa—menyentuh semua lapisan indera.
Gemini tampil dengan twist yang manis. Dua dessert disajikan bersamaan, masing-masing dengan karakter yang berbeda. Satu di antaranya ternyata menyembunyikan dessert lain di bawahnya. Kontras dua kepribadian ini terasa jelas di lidah, membuat kami tersenyum takjub akan permainan rasa dan cerita yang begitu konsisten.
Aquarius adalah pameran teknik gastronomi modern. Di depan kami, sebuah bubble transparan dengan asap putih hadir, dan di dalamnya tersembunyi dessert: banana mousse, infused strawberry compote, banana crisps, dan banana split. Begitu bubble pecah, aroma manis menyeruak, memanjakan indera sekaligus menunjukkan kemampuan teknis tim dapur.

Akhirnya, perjalanan ditutup dengan Virgo. Saat sebuah mangkuk mie ayam sederhana hadir, kami sempat mengira itu benar-benar sajian gurih. Tapi ternyata, hidangan ini adalah dessert penutup yang manis, disajikan dengan cerdik sehingga menipu mata namun memanjakan lidah. Penutup yang rapi, terstruktur, dan penuh presisi—cerminan karakter Virgo itu sendiri.
Zodiac 2.0: Narasi Baru yang Lebih Kaya dan Berlapis
Awalnya, konsep Zodiac hanya dimaksudkan untuk tiga bulan, sebuah eksperimen kreatif bagi seorang tamu setia. Namun tingginya permintaan membuatnya diperpanjang menjadi satu tahun penuh, dan kini memasuki fase Zodiac 2.0. Versi terbaru ini terasa lebih dalam, lebih detail, dan lebih emosional.
Saya bisa merasakan bagaimana setiap elemen di ruang—dari cahaya lampu, tekstur meja—dirancang untuk memperkaya pengalaman. Tidak ada yang kebetulan; semua adalah bagian dari alur cerita yang ingin dibangun. Setiap hidangan datang dengan lapisan rasa baru, setiap ruang menawarkan interpretasi berbeda tentang simbolisme zodiak. Pengalaman ini memang terasa kompleks, ibarat membaca sebuah novel multi-bab yang penuh kejutan.
Setiap hidangan di Zodiac 2.0 bukan hanya tentang rasa, tapi juga tentang cerita dan karakter yang membentuknya. 71st Omakase berhasil mengangkat kuliner Indonesia melalui narasi yang begitu personal, imajinatif, sekaligus menyentuh hati.
Fariz Setyadarma Priady: Sosok Visioner di Balik 71st Omakase
Setiap pertunjukan hebat tentu memiliki sutradara, dan di 71st Omakase, sosok itu adalah Fariz Setyadarma Priady. Kisah hidupnya bagaikan novel: dari seorang bankir di New York, menjadi pencuci piring di restoran, hingga akhirnya bekerja di dapur bergengsi Sushi Nakazawa, tempat murid Jiro Ono—ikon sushi dunia—berkarya.
Fariz membawa seluruh pengalaman itu kembali ke Jakarta, membangun sebuah konsep yang menggabungkan cita rasa, seni, dan filosofi hidup. Nama “71st” sendiri bukan sembarang angka. Ia adalah alamat sederhana di Queens, New York, tempat Fariz memulai perjalanan sebagai imigran yang harus berjuang keras demi bertahan hidup. Angka itu kini menjadi simbol: bahwa dari awal yang sederhana bisa lahir karya yang megah.

“Saya mulai mengundang para koki untuk berdiskusi dan bereksperimen, membuat food tasting dan merancang pengalaman bersantap yang baru. Mereka sering berkumpul di 71st Ave, dan angka itu menjadi simbol. Seventy First bukan sekadar alamat; ia mewakili awal yang sederhana dan tekad yang tak tergoyahkan,” tambah Fariz.
Ya, tekad itulah yang membawa 71st Omakase menjadi seperti sekarang ini. Bahkan ketika pandemi melanda pun, Fariz bertekad untuk tidak merumahkan satu orang pun tim-nya. Dengan sisa uang 12 juta di tabungan, Fariz menggunakannya untuk memasarkan brand nya melalui social media. Dan hal tersebut menjadi langkah penyelamat yang melambungkan nama restoran ini.

Mendengar langsung ceritanya di sela-sela makan malam, saya merasakan ketulusan sekaligus keberanian untuk bermimpi besar. Tidak heran jika setiap detail di 71st Omakase begitu sarat makna.
Interior yang Bercerita Lewat Kreativitas dan Keberlanjutan
Jika rasa adalah bahasa kuliner, maka ruang adalah kanvas yang memperkuat cerita. Interior 71st Omakase dirancang oleh Nabil Alamudi dari Design Studio N/A (DSNA) dengan pendekatan keberlanjutan yang jarang saya temui di restoran sekelas ini. Hampir semua elemen dekorasi terbuat dari material daur ulang: botol plastik diubah menjadi panel dinding bercahaya, kaleng bekas menjadi ornamen seni, kardus dan sedotan disulap menjadi tekstur unik yang memikat.
Setiap ruang bertema zodiak memiliki desain berbeda, seolah kami benar-benar berpindah dunia dari satu ruangan ke ruangan lain. Rasanya seperti menonton sebuah pameran seni interaktif, hanya saja di sini pameran itu berpadu dengan makanan lezat yang tersaji di meja.
Lebih dari Sekadar Makan Malam, Sebuah Undangan Menyelami Cerita
Ketika sesi hampir berakhir, saya menyadari bahwa apa yang saya alami malam itu jauh melampaui definisi makan malam. 71st Omakase bukan hanya tentang rasa, melainkan tentang perjalanan, koneksi, dan refleksi. Dari kisah hidup Fariz, filosofi farm-to-table, hingga ruang-ruang bertema zodiak yang penuh simbol, semua menyatu dalam satu narasi besar: bahwa makanan bisa menjadi bahasa universal untuk menyampaikan cerita hidup.
Bagi saya pribadi, pulang dari 71st Omakase berarti membawa pulang lebih dari sekadar memori cita rasa. Saya pulang dengan cerita yang melekat di benak, pengalaman yang menginspirasi, dan keyakinan bahwa kuliner bisa menjadi seni yang menghubungkan manusia dengan alam, budaya, dan dirinya sendiri.


