Bagaimana rasanya melihat diri sendiri melalui mata orang lain? Pertanyaan itu menjadi lebih menarik ketika “orang lain” tersebut datang dari Eropa pada awal abad ke-20, ketika Indonesia masih berada di bawah kolonialisme Belanda. Tyra Kleen – A Swedish Artist Celebrating Indonesian Culture: A Journey Through Java and Bali 1919–1921, yang kini dipresentasikan Embassy of Sweden in Jakarta bersama Museum of Ethnography Stockholm di lantai 85 Autograph Tower, menghadirkan kembali karya seorang seniman Swedia yang merekam Jawa dan Bali lebih dari seabad lalu. Pameran ini memang berbicara tentang kekaguman terhadap kebudayaan Indonesia, tetapi di balik keindahan gambar, litografi, dan fotografi tersebut tersimpan pertanyaan yang lebih rumit: siapa yang memiliki kuasa untuk melihat, memilih, merekam, dan kemudian menentukan bagaimana sebuah kebudayaan dikenali dunia?

Jawa dan Bali 1919-1921
Tyra Kleen datang ke Jawa dan Bali pada 1919–1921 dengan rasa ingin tahu yang besar. Ia mengamati tari keraton, ritual keagamaan, gerak tubuh, para pendeta, penari, hingga kehidupan sehari-hari. Het Serimpi merekam tari ritual keraton Solo, sementara Mudrās mengeksplorasi gestur tangan para pendeta Hindu. Foto-foto Balinya bahkan memberi kita fragmen visual tentang masyarakat pada dekade 1920-an. Namun justru karena karya-karya itu begitu indah dan detail, kita perlu melihatnya dengan sedikit jarak kritis. Dokumentasi tidak pernah benar-benar netral. Kamera menentukan apa yang masuk frame, gambar menentukan apa yang layak ditampilkan, sementara seorang seniman membawa latar budaya dan posisi sosialnya sendiri ketika memandang subjek yang berbeda darinya. Dalam konteks kolonial, tindakan melihat pun dapat menjadi bagian dari struktur kekuasaan.

Pandangan Mata Perempuan Eropa
Menariknya, Kleen sendiri tidak hadir seperti turis yang sekadar mengoleksi citra eksotis. Ia melakukan perjalanan secara independen, menunjukkan rasa ingin tahu intelektual yang kuat terhadap hubungan antara seni, agama, spiritualitas, tubuh, dan pengetahuan. Di sinilah pembacaan tentang female gaze juga menjadi relevan. Sebagai perempuan Eropa yang bepergian sendiri pada masa ketika hal tersebut tidak lazim, Kleen memiliki posisi yang tidak sederhana: ia berada di luar masyarakat yang diamatinya, tetapi juga tidak sepenuhnya cocok dengan konstruksi maskulin tentang penjelajah, ilmuwan, atau kolonialis.

Tyra Kleen
Mungkin justru di situlah relevansi pameran Tyra Kleen hari ini. Membawa karya-karyanya kembali ke Jakarta bukan hanya berarti mengembalikan gambar-gambar tentang Indonesia ke tempat asal inspirasinya, tetapi juga membuka kesempatan untuk melihat kembali siapa yang selama ini memiliki hak untuk menceritakan Indonesia. Di lantai 85 Autograph Tower, karya yang lahir dari perjalanan seabad lalu kini berhadapan dengan Indonesia yang jauh berbeda: lebih sadar terhadap identitas visualnya, lebih kritis terhadap sejarah representasi, sekaligus semakin berani memproduksi narasinya sendiri. Dalam konteks 76 tahun hubungan diplomatik Swedia dan Indonesia, pameran ini menjadi percakapan yang menarik bukan karena kita harus menerima pandangan Tyra Kleen sebagai kebenaran tentang Jawa dan Bali, melainkan karena kita akhirnya bisa melihat bagaimana sebuah kebudayaan pernah dilihat oleh mata asing.



