Jakarta Fashion Week 2026 tahun ini sangat jelas: semua orang ingin bicara masa depan. Tapi jenama yang berbasis di Bali, BIASA memilih melakukan sesuatu yang lebih langka: ingin mengembalikan fashion ke manusia.
Koleksi “Believe” karya Susanna Perini yang hadir di JFW 2026 bukan sekadar koleksi runway, tapi bentuk counter statement terhadap dunia luxury yang makin terdorong terlalu jauh ke automatisasi, hyper speed, machine optimization yang merupakan ide utama kapitalisme.

Di tengah era dimana “kemewahan” sedang meluncur ke arah ultra digital dan formatting perfection geometry, AI precision aesthetic — BIASA menegaskan bahwa luxury tertinggi masa depan justru terletak pada kerentanan manusia itu sendiri — sentuhan tangan, craft, jejak tubuh, jejak kesadaran dan jejak empati.
BIASA mengartikulasikan ini dalam tujuh babak warna yang bergerak dari wasabi green hingga bata-cacao — sebuah dramaturgi harapan, kedewasaan, ketahanan sampai proses kembali berpijak. Ini bukan sekadar “trend color story”. Tapi adalah kapitel emosional. Dan yang terpenting: luxury Indonesia jarang sekali berani mengeksekusi emosi sebagai engine utama — bukan sebagai aditif estetika.

Koleksi Believe ini menjadikan empati bukan tema, tapi nilai struktural desain, yang semua tertuang pada setiap helai pakaian yang dibuat, yang mengandung nilai-nilai manusia sebagai mahluk emosi. Siluet serba melayang dari fabric yang halus hadir dalam komposisi nuansa resort dan tropikal Indonesia, yang kaya akan pengerjaan tangan secara detail sehingga membuat setiap potongan pakaian menjadi luar BIASA.
Teknik manipulasi kain yang digunakan — dari pintucks, sculpting pavlova meringue, frayed denim, batik hand dyed silk, marble motif hingga labyrinth appliqué — bukan untuk menampilkan kemewahan yang galmor tapi membuat intensitas bahwa sentuhan tangan adalah bagian yang tidak dapat digantikan, bahkan ketika dunia digeser oleh AI.

Bahwa luxury berikutnya adalah rekonsiliasi antara kekacauan zaman dengan keutuhan batin manusia yang coba disampaikan oleh BIASA dengan nada lembut, tanpa agitasi dan dominasi budaya yang berteriak. Dan ini adalah representasi dari luxury Indonesia yang sudah matang, yang tidak berteriak namun percaya diri dalam kesunyian.
Believe memperlihatkan bagaimana Indonesia bisa mengisi posisi global high craft — bukan sebagai “heritage exotic reference” — tapi sebagai author dan new grammar writer. Dan pada momen ini, di Indonesia, BIASA bergerak bukan hanya sebagai jenama fashion, tapi institusi emosi.




