Sebatang pohon raksasa berdiri di pinggir panggung, tapi dalam bentuk lukisan. Daunnya lebat, hijau, menjulur hingga ke lantai dan menghasilkan objek kontras dengan lantai dan dinding putih. Di bawah naungannya, BIYAN mempersembahkan koleksi Spring/Summer 2027 bertajuk Patina, sebuah refleksi tentang keindahan yang tidak lahir dari kesempurnaan yang baru, melainkan dari lapisan pengalaman, perubahan, dan usia yang memberi karakter.

Dibuka oleh model senior Indonesia, Mariana Renata, ia mengenakan stelan tiga potong, kemeja, celana pendek dan overcoat dari bahan sifon menerawang bermotif dedaunan hijau. Pasangannya? Sepatu Moccasin suede dengan warna senada. Yang ternyata, hanya Mariana-lah model wanita yang mengenakan sepatu tanpa hak dari semua model wanita yang berjalan dengan sepatu bertumit tinggi malam itu.
Dalam dunia mode yang kerap mengejar kebaruan, Patina justru mengajak untuk menoleh pada sesuatu yang lebih subtil: pesona yang muncul ketika waktu meninggalkan jejaknya. Istilah “patina” sendiri merujuk pada lapisan alami yang terbentuk seiring berjalannya waktu pada sebuah benda, menghadirkan kedalaman, tekstur, dan nilai yang tak dapat diciptakan secara instan. Yang biasanya saya dengar dalam proses pewarnaan sepatu kulit, sebuah teknik pewarnaan yangg berasal dari Italia. Gagasan inilah yang diterjemahkan BIYAN ke dalam koleksi yang bergerak di antara memori, alam, dan warisan tekstil.

Narasi tersebut telah terasa bahkan sebelum satu pun busana melangkah di runway. Visual pohon besar yang menjadi pusat panggung menghadirkan metafora tentang akar, pertumbuhan, dan transformasi. Sebuah simbol yang sejalan dengan semangat rumah mode ini: menghormati masa lalu sambil terus berkembang menuju masa depan.
Inspirasi koleksi berakar pada lanskap yang ditutupi lumut, tapestry vintage, motif botani, hingga interpretasi modern atas pola harimau Tibet. Hasilnya adalah palet warna yang terasa tenang namun kaya nuansa. Hijau lumut dan hijau hutan bertemu dengan celadon pucat, biru Prusia, ecru, moka, serta berbagai gradasi cokelat tanah. Warna-warna tersebut tidak tampil sebagai dekorasi semata, melainkan sebagai medium yang menghidupkan cerita tentang alam dan perjalanan waktu.

Namun kekuatan utama Patina tidak hanya terletak pada warna. Koleksi ini memperlihatkan bagaimana tekstur menjadi bahasa yang setara pentingnya dengan siluet. BIYAN mengeksplorasi kembali kompleksitas tekstil antik melalui permainan transparansi, kilau, dan permukaan yang mengundang sentuhan. Silk twill, katun, dan linen ditumpuk bersama tulle transparan serta organza ringan, sementara sentuhan lamé dan embellishment menghadirkan percikan cahaya yang lembut. Setiap lapisan tampak seperti halaman-halaman sejarah yang ditulis ulang dalam bahasa modern yang dibuat untuk koleksi pria dan wanita.
Pendekatan tersebut menghasilkan dialog yang menarik antara kekuatan dan kelembutan. Struktur yang tegas tidak pernah terasa kaku, sementara elemen feminin hadir tanpa kehilangan karakter. Dalam banyak tampilan, tekstur menjadi pusat perhatian, memperlihatkan bagaimana sebuah material dapat menyimpan cerita yang sama kuatnya dengan sebuah motif atau warna.



Siluet yang ditawarkan bergerak menuju kemudahan yang kontemporer. Garis-garis ramping dipadukan dengan dropped waist, konstruksi peplum, serta tailoring yang ringan. Proporsi muda hadir melalui permainan panjang-pendek yang menciptakan ritme visual dan rasa gerak yang natural. Lapisan-lapisan transparan memberi kesan ringan, sementara struktur yang lebih relaks menawarkan fleksibilitas untuk dikenakan dengan berbagai cara.
Ada kualitas yang terasa sangat personal dalam koleksi ini. Busana tidak hadir sebagai pernyataan yang kaku, melainkan sebagai medium ekspresi yang dapat diinterpretasikan oleh pemakainya. Potongan-potongan dirancang untuk ditumpuk, dipadukan, dan dikenakan secara intuitif, mencerminkan cara berpakaian yang semakin relevan dengan kehidupan modern.



