Tidak banyak pendiri rumah parfum mewah yang memulai kariernya di dunia astronautika. Namun bagi Sylvie Loday, CEO & Co-Founder Ex Nihilo, perjalanan akademis yang membawanya bekerja untuk NASA justru menjadi fondasi dari cara ia memandang dunia wewangian. Latar belakang itu memperkenalkan Sylvie pada disiplin ilmu yang menuntut presisi, analisis, dan inovasi—tiga nilai yang kemudian membentuk karakter Ex Nihilo sejak hari pertama. Dalam wawancara eksklusif bersama Luxina, Sylvie mengungkap fondasi kreativitas dan inovasi yang membentuk identitas unik brand ini.

Dari NASA ke Haute Parfumerie: Awal Perjalanan yang Tak Terduga
Saat ditemui di Henshin, The Westin Jakarta, setelah rangkaian perjalanan panjang dari beberapa negara di Asia, Sylvie bercerita bagaimana dunia sains sebenarnya tidak pernah benar-benar ia tinggalkan. Bedanya, kini ia menyalurkan sisi teknis dan eksperimental itu melalui bahasa parfum. Bagi Sylvie, Ex Nihilo adalah ruang di mana pendekatan teknis dan kreativitas artistik dapat hidup berdampingan. “Dari NASA, saya membawa semangat inovasi. Itulah yang mendorong kami untuk menciptakan sesuatu yang belum ada sebelumnya,” ujarnya.
Salah satu hasil paling nyata dari visi ini adalah Osmologue, mesin personalisasi parfum yang memungkinkan pelanggan melihat parfum mereka diracik langsung di hadapan mereka. Biasanya, teknologi semacam ini hanya ditemukan dalam laboratorium rumah parfum besar, namun Ex Nihilo menjadi brand pertama yang membawanya ke retail sebagai pengalaman personalisasi yang imersif. Mesin ini kini tersedia di flagship stores Paris, London, New York, Los Angeles, Dubai, dan Hong Kong, menjadi bukti bagaimana engineering dapat bertransformasi menjadi ritual keindahan yang intim.
Inovasi, Bioteknologi, dan Masa Depan Wewangian Modern
Dalam percakapan kami, Sylvie juga menekankan bahwa masa depan parfum tidak dapat dilepaskan dari dunia bioteknologi. Menurutnya, banyak bahan aroma—terutama dari buah-buahan—tidak bisa diekstrak secara alami. Di sinilah bahan biotech mengambil peran. Sylvie mencontohkan pear note dalam Blue Talisman dan natural strawberry yang digunakan dalam Spiky Muse, sebuah inovasi bahan baru yang bahkan berasal dari proses daur ulang industri makanan.

Perkembangan ini tidak hanya terkait kreativitas, tetapi juga keberlanjutan dan konsistensi performa. Bahan alami kerap memiliki variasi kualitas yang dipengaruhi musim atau lokasi panen, sementara bahan bioteknologi menawarkan kestabilan yang lebih tinggi. Dalam pandangan Sylvie, teknologi tidak mengurangi romantisme parfum; justru membukakan pintu bagi dimensi kreatif baru. Dengan standar Ex Nihilo yang selalu menuntut performa dan longevity yang kuat, sintesis modern memberikan keleluasaan bagi perfumer untuk menciptakan aroma yang lebih berani, lebih stabil, dan lebih tahan lama.
Seni, Inspirasi, dan Cara Ex Nihilo Menjaga Kreativitasnya Tetap Segar
Berbicara tentang kreativitas, Sylvie menegaskan bahwa Ex Nihilo tidak mengikuti jalur generik yang sering ditempuh banyak brand parfum—apalagi inspirasi yang bersumber dari Pinterest atau Instagram. Bagi mereka, kreativitas sejati lahir dari pengalaman hidup dan kontak dengan dunia seni. Mereka kerap kembali ke buku-buku lama, mengunjungi pameran seni kontemporer, berbincang dengan para desainer dan arsitek, hingga sekadar membiarkan diri terserap dalam suasana kota yang mereka kunjungi.

Perjalanan, budaya, dan gastronomi juga menjadi bagian penting dari proses kreatif Sylvie. “Hal pertama yang harus dilakukan untuk tetap kreatif adalah keluar dari kantor,” ujarnya sambil tertawa. Menurutnya, ruang kantor lebih cocok untuk efisiensi, bukan imajinasi. Justru pertemuan dengan orang baru, mencicipi kuliner lokal, dan menyelami atmosfer kota menjadi sumber perspektif yang tidak tergantikan. Ketika ia kembali ke Paris, kota itu sendiri menawarkan kekayaan museum, galeri, dan seniman yang memberikan napas baru bagi setiap proyek parfum yang sedang dirancang.
Menciptakan Tanpa Kompromi: Filosofi Eksperimental Ex Nihilo
Di tengah industri parfum yang sering mengutamakan “keamanan” aroma, Ex Nihilo memilih berdiri di garis yang berbeda. Sylvie menjelaskan bahwa mereka secara sadar menolak proses consumer testing tradisional karena pengujian semacam itu sering kali menormalkan kreativitas. Ketika sebuah parfum harus disukai oleh mayoritas, hasil akhirnya cenderung menjadi sesuatu yang terlalu aman dan seragam.
Baginya, parfum yang benar-benar kreatif harus menimbulkan reaksi emosional ekstrem: ada yang mencintainya tanpa syarat, ada pula yang menolaknya. Dan itu sepenuhnya tidak masalah. “Jika tujuan Anda adalah menyenangkan semua orang, Anda tidak akan pernah menonjol,” ungkapnya. Karena itu, Ex Nihilo memberikan kebebasan penuh kepada perfumer untuk mengeksplorasi cerita yang diberikan, bukan mengikuti formula mainstream.
Pendekatan ini mencerminkan identitas Ex Nihilo sebagai brand yang tak takut mengambil risiko. Hasilnya adalah rangkaian parfum yang memiliki signatur kuat: kompleks, memikat, dan sering kali tak terduga. Setiap karya merupakan perpaduan antara sensitivitas artistik dan standar teknis yang ketat—dua pilar yang menurut Sylvie tidak dapat dipisahkan.
Kolaborasi, Nilai Inti, dan Daya Tarik Ex Nihilo di Asia
Ketika ditanya tentang pelajaran terbesar yang ia pelajari sejak mendirikan Ex Nihilo, Sylvie menjawab tanpa ragu: kolaborasi. Sebagai trio founder, mereka merasakan bahwa kekuatan creative partnership jauh melampaui kemampuan satu individu. Dalam perjalanan membangun brand global, dinamika tim menjadi fondasi yang membantu mereka melewati naik-turun dunia entrepreneuship. “Kami jauh lebih kuat ketika bersama,” katanya.

Tidak mengherankan bahwa nilai-nilai ini turut memengaruhi cara Ex Nihilo berkomunikasi dengan konsumennya, termasuk di Asia. Menurut Sylvie, pasar Indonesia adalah salah satu yang paling sensitif terhadap detail, kualitas, dan kreativitas parfum. Konsumen Indonesia mengetahui parfum dengan sangat baik dan memiliki ketertarikan mendalam terhadap craftsmanship yang autentik. Inilah yang membuat Ex Nihilo begitu resonan di kawasan ini: ketulusan, kualitas, dan keberanian kreatif yang terasa tulus dan jelas.
Dengan filosofi yang memadukan ketelitian teknis, keberanian artistik, dan eksplorasi budaya, Ex Nihilo menawarkan lebih dari sekadar parfum. Ia menawarkan perspektif baru tentang bagaimana parfum seharusnya diciptakan—bukan untuk menyenangkan massa, tetapi untuk membangkitkan perasaan, memicu imajinasi, dan merayakan kebebasan berekspresi tanpa kompromi.
Interviewer: Wahyu Septiani


